Beranda | Artikel
Bacaan Sujud Allahumma Laka Sajadtu
19 jam lalu

Bacaan Sujud Allahumma Laka Sajadtu ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 5 Safar 1448 H / 20 Juli 2026 M.

Kajian Tentang Bacaan Sujud Allahumma Laka Sajadtu

Sering kali terdapat bacaan doa yang shahih namun terasa asing di telinga sebagian kaum muslimin. Kenyataan mengenai masih banyaknya lafadz doa otentik yang belum dihafalkan atau bahkan baru diketahui mendasari sebuah kesadaran bahwa ilmu agama yang dimiliki seseorang masih sangat terbatas. Kesadaran atas keterbatasan ilmu ini hendaknya menjadi pemicu semangat untuk terus belajar dan mengkaji ajaran Islam, khususnya mengenai tata cara ibadah yang didirikan setiap hari.

Lafadz Doa Sujud Bagian Keenam

Bacaan doa sujud pada bagian keenam ini memiliki lafaz yang relatif lebih panjang jika dibandingkan dengan bacaan sujud pada umumnya. Lafadz doa tersebut berbunyi:

اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Ya Allah, kepada-Mulah aku bersujud, kepada-Mulah aku beriman, dan kepada-Mulah aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Dzat yang telah menciptakannya, membentuk rupanya, serta membelah (membuka) pendengaran dan penglihatannya. Maha Berkah Allah, Sebaik-baik Pencipta.” (HR. Muslim)

Sumber Dalil dan Perawi Hadits

Ketetapan mengenai keabsahan bacaan doa sujud ini bersumber dari riwayat yang disampaikan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu. Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu memiliki kedudukan istimewa sebagai salah seorang menantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melalui pernikahannya dengan putri beliau, Fatimah Radhiyallahu ‘Anha, yang juga merupakan ibunda dari al-Hasan dan al-Husain.

Riwayat mengenai doa sujud ini dituturkan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, suami dari Fatimah Radhiyallahu ‘Anha. Di dalam riwayat tersebut, beliau menggambarkan secara terperinci mengenai tata cara pelaksanaan shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sejak takbiratul ihram hingga salam.

Ketika menguraikan bagian gerakan sujud, Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca doa:

وَإِذَا سَجَدَ قَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Dan apabila beliau sujud, beliau membaca: Ya Allah, hanya kepadaMulah aku bersujud, hanya kepadaMulah aku beriman, dan hanya kepadaMulah aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Dzat yang telah menciptakannya, membentuk rupanya, serta membelah pendengaran dan penglihatannya. Maha Berkah Allah, Sebaik-baik Pencipta.” (HR. Muslim)

Lafadz doa sujud tersebut mengandung pengajaran yang sangat mendalam mengenai nilai-nilai tauhid, ketundukan seorang hamba, serta bentuk rasa syukur yang tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Makna Pembatasan Ibadah Hanya untuk Allah

Di dalam susunan kalimat Allahumma laka sajadtu, wa bika amantu, wa laka aslamtu, penerjemahan yang tepat dari susunan tersebut menegaskan bahwa ikhtiar sujud, keimanan, serta kepasrahan diri seorang hamba diposisikan secara mutlak hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta semata.

Prinsip pemurnian ibadah ini merupakan inti dari ajaran tauhid. Seluruh bentuk penghambaan dan ritual ibadah tidak boleh dipersembahkan kepada siapapun selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Penegasan tauhid ibadah ini termaktub di dalam Al-Qur’an melalui surat Al-An’am:

 إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku (sembelihanku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Rabb semesta alam.” (QS. Al-An’am[6]: 162)

Penyimpangan Tauhid dalam Tradisi Masyarakat

Meskipun konsep tauhid ibadah terkesan sederhana dan sering didengar, realitas sosial menunjukkan masih banyak praktik di tengah masyarakat yang menyalahi prinsip mendasar ini.

Sebagai contoh nyata, pada momentum bulan Muharram (yang dikenal dalam tradisi masyarakat Jawa sebagai bulan Sura), sebagian kelompok masyarakat masih menjalankan ritual penyembelihan hewan ternak seperti sapi yang diniatkan sebagai persembahan untuk Nyi Roro Kidul.

Praktik persembahan sembelihan kepada makhluk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan bentuk pelanggaran nyata terhadap ikrar tauhid:

 إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Rabb semesta alam.” (QS. Al-An’am[6]: 162)

Nyi Roro Kidul merupakan makhluk ciptaan dan sama sekali bukan dzat yang berhak menerima persembahan ibadah sembelihan. Praktik persembahan sesajen kepada Nyi Roro Kidul tetap terjadi meskipun sebagian pelakunya mungkin menghafal ikrar nya tersebut.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara hafalan di lisan dengan praktik di dalam kehidupan sehari-hari. Kalimat tauhid tidak cukup hanya sebatas dihafalkan atau diucapkan, melainkan diwajibkan untuk dipahami secara benar lalu diamalkan di dalam realitas kehidupan.

Prinsip pemurnian niat ini berlaku pada seluruh bentuk ibadah, termasuk didalamnya aktivitas menuntut ilmu agama. Kegiatan menuntut ilmu merupakan ibadah agung yang wajib diniatkan secara murni lillahi Ta’ala guna mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala serta memperoleh ilmu yang bermanfaat.

Penuntut ilmu hendaknya mewaspadai perangkap setan berupa sikap fanatisme yang berlebihan kepada figur guru atau ustaz tertentu. Seseorang tidak diperbolehkan menolak kebenaran atau enggan belajar hanya karena pengajarnya bukan ustaz pilihannya. Selama seorang pengajar memiliki kompetensi keilmuan yang sah, berpegang pada ajaran yang benar, serta merupakan ahli di bidangnya, maka ilmu yang disampaikannya wajib diterima.

Hubungan dan Perbedaan Antara Iman dan Islam

Di dalam lafadz doa sujud yang telah dipelajari, terdapat dua konsep utama yang disebutkan secara berdampingan:

اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ

“Ya Allah, hanya kepadaMulah aku bersujud, hanya kepada-Mulah aku beriman, dan hanya kepada-Mulah aku berserah diri (berislam).” (HR. Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa apabila kata “iman” dan “Islam” disebutkan secara bersamaan di dalam satu konteks, maka masing-masing memiliki cakupan makna yang spesifik. Iman merujuk pada amalan batin yang tidak terlihat oleh mata, sedangkan Islam merujuk pada amalan lahiriah yang dapat disaksikan.

Perbedaan fundamental ini tampak jelas pada rukun iman dan rukun Islam:

  • Rukun Iman (Amalan Batin): Berjumlah enam perkara yang seluruhnya berkaitan dengan keyakinan di dalam hati, seperti beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta takdir. Keyakinan tersebut tidak tampak secara fisik.
  • Rukun Islam (Amalan Lahiriah): Berjumlah lima perkara yang diwujudkan melalui anggota badan dan lisan yang dapat disaksikan. Pengucapan dua kalimat syahadat dilafalkan oleh lisan, shalat dijalankan melalui gerakan tubuh, zakat dikeluarkan dalam bentuk harta, puasa ditunjukkan dengan menahan diri, serta haji dilaksanakan dengan perjalanan fisik.

Syariat Islam menuntut seorang hamba untuk memperbaikinya secara seimbang, baik pada aspek batiniah (hati) maupun aspek lahiriah (fisik). Seseorang tidak cukup hanya mengklaim memiliki kebaikan batin tanpa diiringi dengan ketaatan lahiriah, begitu pula sebaliknya. Argumen sebagian orang yang enggan mengenakan jilbab atau penutup aurat dengan alasan bahwa yang terpenting adalah kebersihan hati merupakan sebuah kekeliruan di dalam memahami ajaran agama.

Di dalam syariat Islam, seorang muslimah tidak hanya diperintahkan untuk menjaga kebersihan hati dari sifat-sifat tercela, melainkan juga diwajibkan untuk menaati perintah lahiriah berupa menutup aurat.

Amalan-amalan lahiriah di dalam Islam juga berfungsi sebagai syiar agama yang harus ditampakkan. Ibadah shalat berjamaah di masjid serta pengumandangan adzan dengan suara keras termasuk penggunaan pengeras suara merupakan bentuk syiar yang dirancang agar dapat didengar.

Penyerahan Diri Melalui Sujudnya Anggota Tubuh Tertinggi

Rangkaian lafadz doa sujud yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan gambaran mengenai kerendahan hati seorang hamba di hadapan Sang Pencipta:

 سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ

“Wajahku bersujud kepada Dzat yang telah menciptakannya dan membentuk rupanya.” (HR. Muslim)

Wajah merupakan anggota tubuh manusia yang paling mulia. Sebagai perbandingan, perlakuan fisik berupa tepukan ringan pada tangan saat bersalaman tidak menimbulkan rasa tersinggung. Sebaliknya, perlakuan yang sama jika ditujukan pada area wajah akan memicu rasa tersinggung dan marah karena posisi wajah yang dihormati secara naluriah.

Meskipun wajah kedudukannya sangat mulia, seorang hamba yang beriman dengan penuh kesadaran meletakkan wajahnya di atas lantai atau tanah. Tindakan merendahkan anggota tubuh yang paling mulia ini dilakukan sebagai wujud ketundukan, kepasrahan, dan kerendahan hati yang mutlak di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alasan utama yang menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya Dzat yang berhak menerima sujud dari manusia karena hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan dan membentuk rupa wajah manusia.

Setiap wajah manusia dibentuk dengan sangat unik dan memiliki keistimewaan tersendiri. Secara umum, struktur dasar wajah manusia memiliki kesamaan komponen, seperti dahi, dua mata, hidung dengan dua lubang, mulut, dua telinga, serta dagu dan pipi. Namun, apabila diamati secara terperinci, bentuk setiap komponen tersebut selalu berbeda antara satu individu dan individu lainnya.

Variasi detail tersebut tampak pada berbagai aspek bentuk fisik:

  • Bentuk dahi yang lebar atau sempit.
  • Ukuran kelopak mata yang sipit atau lebar.
  • Bentuk hidung yang mancung atau pipih.
  • Ukuran bibir, telinga, hingga bentuk pipi yang tembem atau tirus.

Keunikan ciptaan ini bahkan berlaku pada anak yang terlahir kembar siam. Meskipun orang lain seringkali kesulitan membedakan rupa anak kembar, orang tua mereka senantiasa mampu mengenali perbedaan fisik yang ada pada masing-masing anak. Dua orang yang secara sepintas terlihat sangat mirip pun pasti memiliki perbedaan mendetail apabila diamati secara saksama.

Kemampuan membentuk rupa wajah yang berbeda-beda tanpa ada yang identik secara sempurna pada seluruh manusia sejak zaman Nabi Adam alaihissalam hingga manusia terakhir sebelum hari kiamat kelak ada ratusan miliar manusia yang telah diciptakan dari masa ke masa tanpa ada satupun yang memiliki detail rupa wajah yang identik secara sempurna merupakan bukti nyata dari keagungan kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla. Kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menciptakan dan membentuk rupa makhluk-Nya sungguh tidak terbatas dan Maha Hebat.

Hakikat penciptaan ini ditegaskan kembali di dalam penggalan lafal doa sujud:

الَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ

“Dialah Allah yang telah menciptakannya, membentuk rupanya, serta membelah (membuka) pendengaran dan penglihatannya.” (HR. Muslim)

Di dalam doa tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan secara khusus dua organ indra yang amat vital bagi kehidupan manusia, yaitu pendengaran (telinga) dan penglihatan (mata). Pengkhususan penyebutan indra pendengaran dan penglihatan didasari oleh fungsi strategis keduanya sebagai pintu masuk utama yang dapat mengantarkan seorang hamba menuju surga atau justru menjerumuskannya ke dalam neraka. Kedudukan akhir seorang hamba sangat ditentukan oleh objek yang didengar oleh telinganya serta objek yang dipandang oleh matanya.

1. Penggunaan Pendengaran (Telinga)

Seseorang dapat meraih keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jalan menuju surga apabila telinganya dibiasakan untuk mendengarkan hal-hal yang bermanfaat, seperti kajian ilmu agama dan bacaan Al-Qur’an. Sebaliknya, pendengaran dapat menjadi sarana pendorong menuju neraka apabila digunakan untuk mendengarkan hal-hal yang diharamkan, seperti gunjingan (ghibah) dan gosip mengenai keburukan orang lain.

Seseorang yang sibuk mencari tahu dan memperbarui informasi mengenai aib tetangga atau orang lain memiliki kecenderungan untuk bangga atas pengetahuan maksiat tersebut. Ciri utama dari orang yang gemar memburu aib orang lain adalah kejelasannya dalam merinci kesalahan masyarakat di lingkungannya, namun ia buta terhadap keburukan serta cacat yang ada pada dirinya sendiri.

2. Penggunaan Penglihatan (Mata)

Indra penglihatan juga memiliki fungsi ganda sebagai sarana ketaatan atau maksiat:

  • Mata Pengantar Surga: Mata yang dimanfaatkan untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an, mempelajari artikel ilmu agama, menghafal doa-doa syar’i, serta memandang keindahan alam semesta guna mentadaburi keagungan Allah ‘Azza wa Jalla. Contohnya adalah pandangan yang ditujukan pada bentangan gunung atau pemandangan sawah yang hijau untuk menumbuhkan rasa kagum atas kebesaran ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Mata Pengantar Neraka: Mata yang tidak dijaga dan digunakannya untuk memandang objek-objek yang diharamkan (tatapan liar/jelalatan). Pandangan yang tidak dijaga terhadap lawan jenis yang bukan mahram saat berada di luar rumah bukan merupakan sarana penyegar mata, melainkan perbuatan yang mengotori mata dengan dosa dan noda maksiat.

Sikap tidak menjaga pandangan (jelalatan) dapat terjadi baik di luar maupun di dalam rumah. Ketika berada di luar rumah, seseorang kerap kali membandingkan rupa orang lain dengan pasangan sendiri yang memicu timbulnya rasa tidak syukur.

Sikap yang sama juga dapat terjadi di dalam rumah melalui penggunaan media seperti televisi dan telepon seluler:

  • Seorang suami dapat menggunakan media televisi untuk menyaksikan tayangan yang tidak pantas sewaktu tidak ada istrinya, lalu menggantinya dengan tayangan pengajian ketika istrinya datang.
  • Seorang istri pun dapat memanfaatkan telepon seluler untuk menyaksikan hal-hal yang tidak selayaknya, lalu berpura-pura mendengarkan kajian agama sewaktu suaminya hadir.

Seluruh anggota tubuh berupa mata dan telinga merupakan amanah yang dianugerahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. 

Hikmah Mendahulukan Pendengaran atas Penglihatan

Di dalam penggalan doa sujud yang dituturkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ

“Serta membelah (membuka) pendengaran dan penglihatannya.” (HR. Muslim)

Para ulama menelaah hikmah di balik penyebutan indra pendengaran yang didahulukan sebelum indra penglihatan. Penyusunan redaksi di dalam hadits maupun Al-Qur’an tidak pernah terjadi secara kebetulan, melainkan memiliki dua alasan utama:

  1. Faktor Urutan Perkembangan Biologis: Indra pendengaran pada diri seorang bayi berfungsi dan aktif lebih dahulu dibandingkan dengan indra penglihatannya.
  2. Besarnya Manfaat Keilmuan: Manfaat yang dihasilkan melalui pendengaran jauh lebih besar di dalam proses penerimaan ilmu agama. Sejarah mencatat banyak ulama besar yang mengalami kebutaan namun tetap mampu menjadi ahli ilmu yang tangguh melalui pendengarannya. Sebaliknya, ulama yang mengalami ketulian sangat jarang ditemui karena terhambatnya jalur penerimaan informasi keilmuan secara lisan.

Keagungan Penciptaan Allah dan Fungsi Anggota Tubuh

Rangkaian doa sujud tersebut ditutup dengan penegasan keagungan Allah ‘Azza wa Jalla:

تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Maha Berkah Allah, Sebaik-baik Pencipta.” (HR. Muslim)

Tidak ada satupun pencipta yang lebih baik daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setiap detail fisik yang diciptakan pada tubuh manusia telah dirancang dengan penuh perhitungan serta memiliki fungsi dan manfaat tersendiri.

Sebagai contoh, keberadaan alis mata bukan sekadar hiasan atau aksesoris wajah, sehingga tidak sepatutnya dicukur habis lalu diganti dengan guratan pensil. Salah satu fungsi utama alis mata diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebagai penahan aliran keringat, ketika seseorang berkeringat, cairan keringat dari kening tidak mengalir langsung ke dalam mata melainkan dialirkan menuju bagian samping wajah, sehingga indra penglihatan tetap aman dan tidak terganggu. Hal ini membuktikan bahwa alis mata diciptakan tidak sekadar sebagai hiasan, melainkan memiliki fungsi dan manfaat yang sangat besar.

Tindakan sebagian orang yang mencukur habis alisnya lalu menggantinya dengan pensil atau spidol justru mendatangkan ketidaknyamanan. Ketika wajah berkeringat, guratan tersebut dapat luntur dan merusak penampilan. Begitu pula saat riasan dibersihkan, wajah akan tampak kehilangan bentuk alaminya.

Keyakinan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah sebaik-baik pencipta hendaknya membuat seorang hamba bersyukur dan tidak berusaha mengubah-ubah bentuk fisik ciptaan-Nya. Tindakan mengubah bentuk hidung agar tampak lebih mancung atau menyuntikkan bahan-bahan kimia seperti silikon ke bagian pipi agar tampak lebih berisi merupakan perbuatan yang berbahaya. Penggunaan bahan-bahan non-alami yang dimasukkan ke dalam tubuh dapat menimbulkan kerusakan fisik jangka panjang, seperti infeksi dan keluarnya nanah secara terus-menerus. Setiap muslim diwajibkan untuk meyakini bahwa Allah adalah sebaik-baiknya Pencipta.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajianBacaan Sujud Allahumma Laka Sajadtu” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56389-bacaan-sujud-allahumma-laka-sajadtu/